Minggu, 18 Juli 2010




--and that's why i really love this city.. with a lot of places to go, with the creative and lovely people, with the things in cheap price, with the atmosphere of javanese culture, with all those memories of my childhood :p and i love to coming back soon, hopefully :)--

yogyakarta, july 2010

Senin, 12 Juli 2010

The art of falling in love..




Btw, I write this one, not because I’m in love. Yes, I was in love, but maybe for a years ago.. and I would like to share with u, what the “love concept” means..
Yup, first, describing the word of “falling in love”.. Falling in love and love are two quiet different feeling. Falling in love can be either a flash of emotions or a first step towards love, is that right?!
Hmmm.. it still absurd for me off course.. yup. I was thinking about my love journey. Started from –don’t know each other-, have a good first impression, asked to have a date –movie, dinner, coffee, talked a lot of things- , then he would asked if we could be a couple lover , or it’s called “jadian”. And that’s it. Look so simple, isn’t it?!
And what if, someday, somewhere, somehow, “the one” u thought first, it’s not “the one” u thought later?!! Is that any coincidence that u never knew before, -that universe make- for meet any other guy who just “click” with u, otherwise u have someone else?!
Yah.. that’s not the “simple concept of love”. That can ruin ur day, even your life. What should u do and what should u take. And once again, it’s all about choice!!
You have to do nothing to fall in love and often there’s either nothing you can do to stop falling in love. Even it’s wrong for you, for him/her. And for ur universe. Some people said, love is never wrong. But in the other side, some people said, “u love a wrong person, with a wrong way.” And I never understand..
Hmm.. this just about what I feel of “love concept”.. yes, it still absurd, and I never know what’s wrong and what’s right..

Kamis, 13 Mei 2010

cerita indah dari pulau yang indah

Namanya Pak Sapri. Dia adalah nelayan cumi- cumi dari pulau derawan. Kemana- mana membawa sepeda tuanya. Setiap hari dia melaut di pagi hari, untuk menangkap cumi- cumi dengan cara memanah. Nah, bedanya dengan nelayan lain yang rata- rata menjual hasil tangkapannya ke pengumpul atau ke TPI langsung, dia menjual hasil tangkapannya langsung ke restoran2 atau pun dimakan sendiri untuk keluarganya. Dia bilang lebih senang menghabiskan waktu dengan keluarganya, dibanding terus- terusan melaut untuk mendpatkan rupiah yang melimpah.

Dia sangat membantu kami, ikhlas, saya tahu itu. Benar2 beda dengan warga lokal lain yang biasa saya temui pada saat proses peliputan, yang menganggap bahwa proses syuting itu memiliki budget yang melimpah, dan mereka mendapat bayaran yang besar (padahal boro2…).

Ada juga pak Agus. Nelayan harian ini sangat pintar. Walau lulusan SD, bukan hanya menguasai teknik pancing tradisional dan modern, serta navigasi laut dan musim, dia juga sangat mengerti tentang geografi dan politik. Mengobrol dengannya seakan tidak habis bahan pembicaraan. Selalu saja ada yg keluar dari mulutnya.

Ada lagi Pak Lepri, karyawan UPT Dinas Kelautan dan Perikanan yang sangat membantu dan menyiapkan segala sesuatu keperluan peliputan kami, dan tanpa pamrih. Masih saya ingat, semua crew ini hampir bermalam di tengah laut karena mesin perahu yang tiba- tiba mati, dan menunggu kapal jemputan datang. Kita malah bercanda, tertawa- tawa, memancing sampai alat pancing nyaris rusak karena ulah teman saya, dan tidak ada beban di wajah mereka, tulus.

Oh ya, orang- orang ini sangat peduli dengan lingkungannya. Baru kali ini saya melihat perkampungan nelayan yang sangat bersih dan terawat. Pagi dan sore hari, bergantian para ibu menyapu halaman rumah dan jalan setapak di pulau kecil ini. Bagian belakang rumah panggung yang langsung menghadap ke laut, masih sangat bersih. Mereka memberi makan penyu2 hijau yang lalu lalang di belakang rumah mereka. Tidak ditangkap, dipelihara, apalagi dikonsumsi. Dibiarkannya saja aneka makhluk laut itu di habitatnya. Mereka hanya merawat dan memelihara.


Hmm.. berharap suatu hari bisa kembali lagi ke sana.

Akan selalu saya ingat kebaikan hati orang- orang dari pulau kecil ini, pulau indah dengan manusia2 yang”indah” di dalamnya. Yang sangat ikhlas membantu dengan setulus hati. Mereka orang- orang pintar yang sangat tahu bagaimana menjaga desanya, menjaga lingkungannya, dan menjaga keramahtamahannya dengan pendatang.

Ah.. bukan kesan wisata dan alamnya saja, tapi manusia- manusia dari pulau kecil di timur borneo ini akan selalu saya kenang..

Kamis, 26 Februari 2009

Sepenggal Kisah- Gili Trawangan

Sabtu, 6 Desember 2008. Hari itu adalah hari ketiga perjalanan backpacking kami di Lombok. Setelah puas menikmati keindahan dan kesunyian pantai Senggigi, kami pun bermaksud menyambangi dan melihat secara langsung kecantikan gugusan tiga gili di bagian barat Lombok.

Terdapat tiga gili (pulau, dalam bahasa Lombok) di Lombok Barat yang sangat terkenal seantero bumi, yakni Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Namun kami memilih Gili Trawangan, sebagai tempat menginap dikarenakan paling ramai dengan harga yang paling bersahabat untuk kelas backpacker.

Dari Mataram, dengan motor pinjaman dari salah seorang teman yang sangat baik *thanx to Reza*, perjalanan menuju pelabuhan Bangsal kami tempuh sekitar satu jam. Jalur yang kami lalui tidak melintasi pesisir Senggigi (if u look the map, maybe it looks more easy and more faster), tapi melewati jalur Gunung Sari- Pusuk. Kalau kita lihat di peta sih mungkin memang terlihat lebih jauh, namun jalur ini memang lebih nyaman. Yahh..jika dibandingkan dengan menyisir jalur pantai yang membuat kulit sukses mengosong ;p (we’ve ride motorcycle!!). Apalagi kami juga sempat mampir dan menyaksikan atraksi monyet2 liar di puncak pusuk yang selalu ingin show-up di depan manusia2 yang menyambanginya.

Pemandangan laut lepas dan gugusan Gili yang menjadi background habitat monyet2 liar itu juga menambah kebetahan kami di puncak Pusuk. Namun waktu sudah menunjukkan pukul 14.10, sedangkan kapal (umum) terakhir yang akan berangkat menurut info yang kami dapat pukul 15.00, kami lalu melanjutkan perjalanan.

Pusuk Monkey

Tibalah kami di pelabuhan bangsal tepat pukul 14.30. Setelah menitipkan motor di tempat khusus penitipan (dengan biaya Rp. 7000,-/jam) kami bermaksud membeli tiket menuju Gili Trawangan. Tiba-tiba ada seorang pria (calo) mendatangi kami, menawarkan kami untuk ikut berangkat saat itu juga, dengan kedua tamunya (sepasang bule Eropa), dengan membayar sewa perahu sebesar Rp 175.000,- (sewa khusus, langsung berangkat). Kami yang tidak tahu apa-apa (bahkan tidak sempat menuju loket pembelian tiket) langsung disuruh masuk ke dalam kapal. Namun si bule perempuan tadi menahan dan mengajak beberapa penumpang lain untuk share bersama kami, agar biaya yang dikeluarkan tidak terlalu besar. Tapi sang calo tadi tetap bersikeras menyuruh kami masuk dengan alasan kapal untuk umum (dengan tiket Rp.10.000,-/orang) baru akan berangkat ketika telah terkumpul 25 orang, sementara keberangkatan terakhir pukul 15.00 dan saat itu sudah pukul 14.30, dan orang2 di pelabuhan itu tinggal sedikit dengan tujuan tidak hanya ke Gili Trawangan saja, menurutnya.

Ketika bule perempuan tadi mengajak dua bule lainnya untuk bergabung, sang calo malah berkelit dengan berkata biaya Rp 175.000,- itu hanya untuk berempat, tapi bule perempuan yang pintar itu menuju loket dan membaca petunjuk biaya sewa kapal, ternyata saya juga baru membaca kalau sewa kapal Rp. 175.000,- itu untuk maksimal 12 orang. Lantas kenapa dia memaksa hanya kami berempat yang masuk dan dengan sikap yang jauh dari sopan ketika melayani tamu-tamu asing yang berwisata di daerahnya??!!

Bule perempuan dan calo tadi masih beradu mulut, saya berlari ke arah orang-orang lokal yang sedang duduk, saya tanya, ternyata mereka semua memang bertujuan ke Gili Trawangan. Setelah saya hitung jumlahnya mencapai 18 orang dan tak lama beberapa orang lagi datang. Akhirnya kami berempat membeli tiket untuk umum yang hanya Rp. 10.000,- per orang. Hanya satu komentar dari perempuan Eropa itu, “ They’re horrible!!”

Tak lama, tapat pukul 15.00, kapal umum tersebut berangkat (benar2 umum karena ada sayuran, pupuk, kambing hidup, berhubung dua hari lagi perayaan idul fitri, dan ayam2 hidup).

di atas kapal


Untunglah kami mau bersabar dan tidak terbujuk hasutan calo tadi. Yang saya sesali adalah kenapa calo-calo seperti itu masih berkeliaran di sektor pariwisata Indonesia, yang akansangat memalukan nama Indonesia di mata turis2 asing. Kondisi pelabuhan Bangsal, sebagai salah satu penunjang sektor pariwisata Lombok juga seharusnya diperbaiki, begitu pula system keberangkatan kapal dan calo2nya, mengingat gugusan tiga gili ini sangat diminati terutama oleh turis-turis asing. Yah..semoga saja kondisinya akan lebih baik.. Just share my experience to u all..

sunrise at Gili Trawangan

Kamis, 22 Januari 2009

Dini hari di Statsiun Tugu

Stasiun Tugu Yogyakarta, 11. 45 WIB. 3 Desember 2008

I was on my backpacking vacation, in my first city, Yogyakarta.

Dari Yogya, saya akan melanjutkan perjalanan menuju Lombok. Namun saya harus ke Surabaya terlebih dahulu karena pesawat yang akan membawa saya ke Lombok berangkat dari Surabaya. Karena teman saya tak tahan kantuk, sementara Mutiara Selatan yg akan mengantarkan kami ke Surabaya akan berangkat pada pukul 2 dini hari, maka ia mengantarkan saya ke stasiun pada pukul setengah 12 malam. Sambil terkantuk- kantuk saya duduk dan menunggu datangnya kereta Mutiara Selatan yang berangkat dari Bandung pada pukul 7 malam.

Suasana stasiun Tugu cukup lengang. Tak terbayang jika saya harus berada di sana dan menunggu kereta pada musim liburan ataupun musim mudik. Mungkin saya tidak bisa duduk berselonjor kaki dengan tenang. Tampak beberapa pria paruh baya juga duduk di ruang tunggu stasiun kebanggaan Yogya itu.Ada juga sepasang kekasih yang juga terkantuk-kantuk menunggu datangnya kereta yang akan membawa mereka entah kemana. Ada seorang nenek yang tertidur pulas dengan badan yang seluruhnya disandarkan di kursi. Dan ada seorang lelaki bule, mungkin dari Eropa, tebakan saya, yang dengan setelan backpacker-nya duduk ditemani earphone di telinganya dan membaca lonely planet-Indonesia.

Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 01.30 WIB. Belum terdengar suara khas sentuhan kereta dengan jalannya. Tiba-tiba kami dikagetkan dengan suara segerombol petugas keamanan. Mereka mendatangi kami satu persatu dan memeriksa tiket kami. Ketika sampailah pada nenek tersebut. Dengan tega mereka membangunkan sang nenek dan menanyakan tujuan perjalanannya. Sang nenek hanyak duduk, diam, dan sumringah.

Petugas keamanan,” Jangan senyum-senyum aja, mana tiketnya nek?”

Sang nenek hanya diam.

Petugas keamanan, “Nenek mau ke mana sebenarnya?”

Nenek tetap diam

Petugas keamanan, “Jangan-jangan nih nenek kabur lagi dari rumah.”

Sang nenek tetap diam.

Akhirnya sang nenek pun diusir keluar dari stasiun Tugu. Miris rasanya melihat orang tua renta itu memohon untuk menumpang duduk di sana. Para petugas itu bergumam, bahwa bulan kemarin ternyata ditemukan dua mayat di atas kursi tunggu stasiun tersebut, karena itulah mereka memperketat pemeriksaan kepada setiap penumpang, terutama pada dini hari.

Ah, di mana keluargamu Nek? Mengapa engkau sendiri di stasiun kereta, tepat jam 1 pagi? Apa yang kau tunggu dan kau cari di sana? Ingin rasanya aku bertandang ke arahnya, sekedar untuk mengobrol dan memberinya sedikit rasa belas kasihan. Namun suara kereta yang akan mengantarku ke Surabaya telah terdegar dan aku bergegas menuju gerbong kereta.

Minggu, 18 Januari 2009

Check this out!





Myspace Layouts

Selasa, 16 Desember 2008

Dan Dewa Pun Ikut Menari...

Beruntung sekali, di penghujung tahun 2007 lalu saya berkesempatan meliput dan menyaksikan langsung prosesi upacara adat odalan yang diadakan oleh keluarga I Wayan Subrata sebagai bentuk rasa syukur dan hormat mereka terhadap SangHyang Widhi Wasa atas pura atau sanggah (tempat peribadatan) milik mereka. Biasanya upacara odalan ini dihadiri oleh seluruh keluarga besar, dan anak laki-laki terakhir dalam keluarga tersebutlah yang bertanggung jawab mengadakan upacara odalan, yang dilaksanakan tiap dua tahun sekali ini. Dan para keluarga yang datang harus membawa bebanten atau sesajen yang akan dberikan kepada para leluhur mereka. Semakin mewah sesajen yang mereka berikan, artinya menunjukkan semakin sejahtera kehidupan mereka. Yang menarik dari upacara ini adalah mereka menyebutnya sebagai pesta para wanita. Ya, karena di akhir upacara para wanita akan menari bersama dewa-dewi yang telah mereka undang dalam prosesi upacara.

Prosesi dalam upacara ini diawali dengan sembahyang ke pura terdekat. Setelah itu dilanjutkan dengan Mecaru, atau persembahyangan khusus untuk keluarga besar di sanggah milik pak Wayan. Prosesi tersebut berlangsung sekitar 1 jam, dan saya menunggu prosesi selesai sambil terkantuk kantuk karena waktu telah menunjukkan pukul 9 malam. Apalagi iringan gamelan yang menyertai prosesi Mecaru begitu lembut di telinga seolah mengantarkan saya ke alam mimpi, walau memang terkesan sedikit mistis. Dan ternyata Mecaru tadi adalah proses mengundang arwah leluhur mereka untuk menari bersama di akhir upacara nanti.

Usai Mecaru, para pemusik beristirahat sejenak sambil mengisi perut dan menambah tenaga, karena nantinya mereka akan mengiringi para penari dewa ayu tanpa boleh berhenti selama 3 jam ke depan. Mereka makan di wadah besar bersama- sama, yang dinamakan megibug (makan bersama). Setiap keluarga memiliki makanan favorit, dan keluarya Pak Wayan memilih babi guling sebagai menu favorit mereka.

Usai megibug, dimulailah tarian Dewa Ayu. para wanita mulai dari usia 7 hinggal puluhan tahun menari bersama diiringi alunan gamelan khas Bali. Mereka masing-masing membawa mesapa (janur) yang menandakan bahwa tubuh mereka siap untuk dirasuki arwah para leluhurnya. Dan setelah sepuluh menit menari, salah seorang ibu mulai menari dengan lincah dan semangat dan ia meminta keris. Keris yang sangat tajam ujungnya pun ditusukkan ke dadanya. Namun tak terjadi apa-apa, karena tubuhnya telah dikuasai oleh arwah leluhurnya itu. Dan para penonton yang tidak ikut menari harus meneriaki para penari tersebut untuk memberikan semangat.



Dan suasana semakin ramai karena makin banyak saja yang dirasuki arwah-arwah tersebut.Dan mereka yang sudah dan hampir dirasuki harus diberi keris. Bahkan seorang anak kecil usia 7 tahun pun juga ikut dirasuki. Seram juga rasanya di sana, namun karena semua orang menikmati, saya pun ikut menikmati suasana kebersamaan tersebut. Rata-rata arwah yang merasuki para penari tersebut menari selama 10 menit. Namun ada juga yang berkali-kali dirasuki. Dan itu adalah tanda kehormatan bagi sang wanita karena ia mendapatkan perlindungan yang lebih dari leluhurnya.

Tarian tersebut berlangsung selama beberapa waktu, sampai saya yang tadinya hanya ikut mennyoraki dan memberi semangat juga ditarik untuk menari sambil membawa keris. Dengan perasaan takut dan deg-degan saya ikut menggerakkan badan dan berlenggak lenggok menikmati alunan gamelan juga. Dan untunglah saya tsrus dalam keadaan sadar.

Setelah semua selesai menari dan sadar kembali, mereka dibasuh tirta (air suci) oleh pendeta tanda mereka siap kembali suci ke alam sadar. Dan mereka terus menari sampai para leluhur puas dan meninggalkan tubuh mereka. Waktu sudah menunjukkan pukul 1.30 dini hari, namun mereka masih menikmati alunan gamelan dengan bit cepat, melemah, sedang, dan terus menari tanpa lelah. Namun saya sudah lelah dan ingin cepat-cepat menuju kasur empuk di hotel, akhirnya saya mohon pamit kepada sang tuan rumah. Senang rasanya melihat sebentuk persembahan salah satu keluarga besar kepada para dewa dan leluhurnya di Bali Barat, dan berharap suatu waktu dapat kembali menyaksikan prosesi upacara unik lainnya di jagad Indonesia.